Serba-serbi Live-in (4): Akrab dengan Lumpur

Tak lengkap rasanya berkegiatan di Griya Agro bila belum bermain lumpur di hamparan petak sawah. Murid-murid SMA Dian Harapan peserta live-in 28 Oktober hingga 1 November 2013 lalu, tampaknya juga sangat menantikan kesempatan itu. Maka datanglah saat yang ditunggu-tunggu. Ini adalah hari ke empat atau menjelang malam terakhir bagi murid-murid SMA Dian Harapan, Cikarang menjalani live-in.

Akrab dengan lumpur1

Selesai makan siang di rumah masing-masing, murid-murid segera berkumpul di aula Griya Agro. Syukurlah semua tetap tampak ceria dan sehat. Kami hendak bermain bola dan tarik tambang di sawah yang berlumpur. Tadinya pendamping hendak mengatur permainan bola khusus untuk anak laki-laki, sedangkan murid-murid perempuan akan diajak bermain tarik tambang. Tapi seorang peserta perempuan protes dengan model pembagian tersebut. Rupanya ia ingin juga bermain bola selain tarik tambang. Murid-murid perempuan yang lain pun sepakat. Jadilah anggota tiap kelompok bermain terdiri atas laki-laki dan perempuan.

Seolah tak sabar hendak sampai di lokasi permainan, teriakan para murid menggema di bentangan persawahan yang luas. Tapi perjalanan memang tak bisa ditempuh terlalu cepat. Kami harus berbaris meniti pematang sawah yang licin. Satu-dua anak tampak tak bisa menjaga keseimbangan tubuh hingga kaki pun terpaksa masuk ke tepian sawah yang baru saja ditanami. Kotor memang tapi untunglah tak ada yang jatuh hingga harus memeluk tanah

Akrab dengan lumpur2

Kurang-lebih setengah jam kemudian, rombongan pun sampai di petak sawah yang sengaja disediakan Griya Agro untuk peserta bermain-main. Tentu saja tak ada tanaman padi di situ. Cuma ada genangan lumpur semata. Tapi permainan tak segera bisa dimulai. Sebab para murid sempat cerai-berai menjauhi petak sawah tersebut, setelah beberapa orang berteriak: “Ada ular! Ada Ularrr!” Untunglah kehebohan pun segera reda, mungkin setelah mereka menyadari bahwa teriakan itu hanyalah sekadar ‘hoax’.

Waktu lima menit tiap pertandingan bola antara dua tim terasa begitu lama. Tendangan kaki menyentuh bola pun amat jarang bisa dilakukan. Jangankan berlari menghampiri bola lalu menendangnya, untuk berjalan saja sulit. Maklum, di tengah lapangan kedalaman lumpur bisa mencapai pinggang orang dewasa!

Wasit pun musti sigap mengingatkan para pemain agar tidak secara sengaja mengarahkan cipratan lumpur ke wajah pemain lawan. Beberapa pemain terpaksa meninggalkan area permainan karena tak kuat menahan mata yang pedih kemasukan lumpur karena cipratan yang disengaja maupun tidak. Beberapa orang segera menuntun para pemain yang nasibnya kurang beruntung itu ke tepi lapangan menuju pancuran air.

Tapi kondisi itu tak menyurutkan semangat bermain. Sebaliknya sorak-sorai justru semakin meriah. Sebab meski sulit, gol-gol pun mulai tercipta. Ini terjadi setelah beberapa pemain mulai menemukan teknik menggiring bola di lumpur. Bukan dengan kaki tetapi menyorongnya dengan kepala sambil membungkukkan badan. Tentu saja ini harus dilakukan sambil menahan napas. Sebab bila tidak maka lumpur pasti masuk melalui hidung atau mulut yang mau tak mau harus menyentuh permukaan lumpur. Setelah dekat dengan gawang, barulah pemain tersebut atau rekan lainnya berupaya menendang bola untuk menjebloskannya ke gawang lawan. Tapi ini pun bukan perkara mudah. Bayangkan, bagaimana mungkin segera menendang bola bila kaki seolah tak mau diangkat keluar dari lumpur

Karena medannya, sepakbola lumpur memang tak memungkinkan pemain untuk melompat menyundul bola. Dan sepakbola lumpur di Griya Agro pun tetap mengharamkan pemain menggunakan tangan untuk mengolah bola. Kecuali tentu saja penjaga gawang. Jadilah pertandingan sepakbola lumpur penuh hiruk-pikuk. Ada pemain yang susah payah menyeret kakinya bersiap menyambut operan bola, sementara kawannya juga tak kalah sibuk menyorong-nyorong bola dengan kepala sambil menundukkan badan. Sedangkan pemain-pemain lawan juga tak kalah gigih berupaya merebut bola.

Tapi ada juga satu-dua pemain yang seolah ‘terasing’ dari pertandingan. Ini terjadi manakala pemain-pemain tersebut karena gerakannya sendiri maupun akibat senggolan dengan pemain lain jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Bila demikian yang terjadi, hampir bisa dipastikan butuh setidaknya lebih dari satu menit untuk bangkit berdiri tegak kembali. Pemain dengan kondisi tersebut jadinya memang harus sibuk mengurus dirinya sendiri

Teriakan-teriakan tak kalah membahana juga terjadi di luar arena pertandingan sepakbola lumpur. Tapi ternyata tak sepenuhnya teriakan itu ditujukan untuk menyemangati para pemaian sepakbola lumpur. Teriakan itu bukan pula menandai akan berlangsungnya permainan tarik tambang yang tadi direncanakan. Sebaliknya justru tengah berlangsung ‘permainan’ dadakan. Beberapa orang yang menunggu giliran atau telah usai bermain bola tampak saling lempar lumpur ke segala orang yang ada di situ. Disebut segala orang karena rupanya dalam permainan ini tak ada istilah lawan atau kawan yang ajeg. Setiap orang yang tadinya kawan, bisa tiba-tiba menjadi lawan. Maka bersiaplah untuk selalu waspada menghindar dari lemparan lumpur entah dari mana arahnya. Lalu silahkan untuk membidik dengan cermat orang lain yang mungkin sedang lengah

Bahkan bidikan pun bisa diarahkan ke wasit yang tengah memimpin pertandingan sepakbola lumpur. Dan memang itulah yang terjadi. Kini semuanya telah akrab dengan lumpur. Baik murid-murid maupun para guru juga tim pendamping. Jangan harap ada yang bisa bebas dari serangan lumpur. Dan sepertinya juga bila saat itu benar-benar ada ular sawah yang melintas, murid-murid SMA Dian Harapan yang telah sepenuhnya menguasai arena mungkin tak akan lagi peduli.

Baca Juga:

1. Serba-serbi
2. “Sambelnya Enak!”
3. Undian Kamar Mandi
5. Pelajaran dari Sungai Ciherang dan Para Pemandu Lokasi

Iklan

4 responses to “Serba-serbi Live-in (4): Akrab dengan Lumpur

  1. Ping-balik: SERBA-SERBI LIVE-IN SMA DIAN HARAPAN, CIKARANG (1) | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  2. Ping-balik: SERBA-SERBI LIVE-IN (2) “Sambelnya Enak!” | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  3. Ping-balik: SERBA SERBI LIVE IN (3): Undian Kamar Mandi | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  4. Ping-balik: Serba-serb Live-in (5) Pelajaran dari Sungai Ciherang dan Para Pemandu Lokasi | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s