Serba-serbi Live-in (5) Pelajaran dari Sungai Ciherang dan Para Pemandu Lokasi

Setelah puas bermain lumpur, tiada lagi yang kami butuhkan selain air untuk membasuh seluruh tubuh. Tapi lebih dari sekadar membasuh, pekatnya lumpur membuat kami semua ingin merendam tubuh kami di air yang mengalir. Pilihan kami tentu saja menuju aliran Sungai Ciherang yang membelah persawahan Griya Agro. Kami ingin membiarkan aliran air sungai Ciherang menyapu seluruh lumpur di tubuh kami dari ujung kaki hingga ujung rambut hingga kemudian kami bisa merasakan kesegaran alami. Inilah yang membuat semangat kami tetap menyala ketika kami harus kembali menyusuri pematang sawah menuju tepian Sungai Ciherang.

 

Akrab dengan lumpur1Tak peduli tubuh yang amat letih setelah berjibaku dengan lumpur, kami mengikuti langkah para pemandu lokasi yang memang telah disiapkan oleh Griya Agro menuju ke Sungai Ciherang. Menjelang aliran sungai, kami harus melewati sebidang tanah yang ditumbuhi oleh tanaman salak serta perdu liar yang penuh duri. Jadi kami harus pandai-pandai memilih jalan agar tak tergores duri-duri itu. Sebelum kami benar-benar bisa masuk ke aliran sungai, kami harus melalui batu-batu kali yang musti sedikit kami panjat karena ukurannya yang lumayan besar.

Sandal, kacamata dan topi kami letakkan di atas batu-batu tersebut. Beberapa murid laki-laki serta pendamping yang juga laki-laki yang memutuskan bertelanjang dada sambil berendam menaruh kaos mereka di atas batu-batu itu pula. Lega rasanya begitu kami bisa membasahi seluruh tubuh kami di aliran Sungai Ciherang. Acara berendam pun menjadi kesempatan bagi kami untuk bermain air dengan bebas. Termasuk bagi para pemandu lokasi. Meski demikian, para pemandu tersebut tetap menjalankan fungsinya melindungi kami dari marabahaya. Misalnya, mereka membentangkan tali dari sisi yang satu ke sisi lainnya, sehingga kami bisa dengan aman memotong aliran sungai untuk sekadar melihat daerah seberang sungai.

Berkat kewaspadaan yang tinggi dari para pemandu lokasi itu pula, kami semua bisa terhindar dari kemungkinan terseret oleh derasnya aliran Sungai Ciherang yang datang dan meninggi dengan begitu tiba-tiba. Itu terjadi kira-kira 30 menit sejak kami mulai asyik menikmati sentuhan air sungai ke sekujur tubuh. Sekonyong-konyong para pemandu lokasi Griya Agro berteriak meminta sambil setengah memerintahkan kami segera naik ke daratan: “Naik! Naikkk! Naikkk sekarang juga! Ayoooo naikkk!!!”

Sebagian dari kami tertegun seolah tak mengindahkan permintaan yang telah berubah jadi perintah itu. Tapi guru-guru dan para pendamping segera memahami isyarat tersebut. Di hulu Sungai Ciherang telah turun hujan. Meski di wilayah Griya Agro cuaca terang benderang, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk tetap berada di tengah aliran sungai. Sebab debit dan kecepatan aliran Sungai Ciherang telah naik sekian kali lipat dengan begitu cepatnya. Dengan susah payah, kami semua berusaha naik ke daratan.

Susah payah karena kami terdiri atas 50 orang lebih yang terkonsentrasi di satu titik untuk bisa naik ke daratan. Belum lagi faktor keingintahuan sebagian dari kami untuk melihat perubahan debit dan kecepatan aliran Sungai Ciherang yang dalam hitungan detik naik dengan drastis. Sebagian batu-batu kali tempat tadi kami bersandar sudah tak tampak lagi.

Tapi tak ada waktu lagi bagi kami. Naik ke daratan sekarang juga atau hanyut terbawa derasnya air Sungai Ciherang. Guru-guru, pendamping dan para pemandu lokasi pun semakin keras berteriak memerintahkan kepada para murid untuk segera menjauh dari pinggir sungai. Sebagian murid masih kebingungan mencari sandal mereka, kacamata dan perlengkapan lain yang mereka letakkan di atas beberapa batu kali. Perintah dari para guru, pendamping dan pemandu lokasi pun semakin jelas: “Ambil dan bawa apa saja yang bisa kalian ambil. Tak peduli itu milik kalian atau bukan. Nanti bisa diurus ke pemiliknya setelah aman di daratan. Tinggalkan segera apa pun yang ada di sekitar kalian, bila itu menyita waktu kalian untuk naik ke daratan. Ayoooo segera naikkkkk!”

Memang tak semua barang bisa diselamatkan. Seorang murid misalnya, terpaksa harus merelakan kacamatanya hanyut terbawa air. Tapi semua peserta selamat, tak kekurangan satu orang pun. Inilah buah dari kewaspadaan tingkat tinggi para pemandu lokasi Griya Agro serta kerjasama yang sigap dari para guru serta murid-murid SMA Dian Harapan, saat menghadapi perubahan kondisi alam yang begitu tiba-tiba.

Saat kami meniti pematang sawah untuk kembali ke aula Griya Agro, salah seorang pemandu lokasi menjelaskan tanda-tanda yang bisa jadi petunjuk perubahan debit dan kecepatan aliran air Sungai Ciherang. Di antaranya ialah: suhu air sungai yang tiba-tiba menjadi dingin, munculnya buih-buih putih pada aliran air serta terbawanya sampah berupa daun kering dan ranting-ranting bersama dengan aliran sungai yang semakin deras.

Kejadian tersebut memang sempat membuat kami panik dan was-was. Tapi dari para pemandu lokasi, kami memperoleh pengetahuan bahwa alam pasti memberikan tanda-tanda tertentu yang mengiringi perubahan kondisinya. Tinggal bagaimana kami melatih kejelian kami dan menjauhi sikap-sikap yang menyepelekan tanda-tanda alam tersebut. Terimakasih Sungai Ciherang dan para pemandu lokasi Griya Agro.

Baca Juga:

1. Serba-serbi
2. “Sambelnya Enak!”
3. Undian Kamar Mandi
4. Akrab dengan Lumpur

Iklan

4 responses to “Serba-serbi Live-in (5) Pelajaran dari Sungai Ciherang dan Para Pemandu Lokasi

  1. Ping-balik: SERBA-SERBI LIVE-IN SMA DIAN HARAPAN, CIKARANG (1) | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  2. Ping-balik: SERBA-SERBI LIVE-IN (2) “Sambelnya Enak!” | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  3. Ping-balik: SERBA SERBI LIVE IN (3): Undian Kamar Mandi | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

  4. Ping-balik: Serba-serbi Live-in (4): Akrab dengan Lumpur | GriyaAgro Cibatubelah Purwakarta·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s