Pelatihan + Ekowisata: Mengenal Pembuatan Gula Aren

Agrowisata, camping, LDK, atau live in bahkan retret/kegiatan rohani di griyaagro dapat diselinggi dengan aktivitas menarik. Yakni, mengenal cara pembuatan gula aren. Petani di komunitas griyaAgro  training camp, mempunyai ketrampilan membuat gula aren. Gula aren di jual di pasar sekitar griyaagro atau ditawarkan kepada tamu yang datang ke tempat kami.

Pengenalan cara membuat gula aren hanya salah satu saja dari, aktivitas pertanian/peternakan yang dapat disaksikan. Aktivitas lain misalnya, pembuatan pupuk kandang, tanam/panen padi atau membajak sawah. Dengan belajar mengenal kegiatan tersebut, peserta diajak untuk menghargai ragam pangan hasil olahan petani.

Mengenal pohon aren dan membuat gula aren

Mengenal pohon aren dan membuat gula aren

Proses Pembuatan
Pengenalan pembuatan gula aren dimulai dari proses yang paling awal yaitu mulai dari penyadapan pohon aren.

Proses awal dimulai dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.

Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.

Pengenalan selanjutnya adalah pemasakan. Setelah dikumpulkan, nira segera  hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula ‘”gandu”). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.

Mencetak, mencicipi gula aren selagi hangat

Mencetak, mencicipi gula aren selagi hangat

Nah, saat paling asyik adalah ketika para peserta diperbolehkan mencicipi gula aren yang masih hangat dan kental. Hmmm, yummy. Kalau berminat, para tamu boleh membeli contoh gula aren yang baru saja dibuat.

Hasil lain dari Nira
Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut ”saguer”. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih/ Xylocarpus atau sejenis manggis hutan (”Garcinia”)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit.

Oleh karena, sering disalahgunakan, di banyak tempat pembuatan nira menjadi alkohol diawasi dengan ketat.

Selain dibuat menjadi tuak, dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.

Nira mentah (segar) bersifat pencahar laksativa, sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.

Iklan

One response to “Pelatihan + Ekowisata: Mengenal Pembuatan Gula Aren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s